JOMBANG, jombangreclasseering.com — UD Saputra Jaya di Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, menjadi salah satu produsen susu sapi perah terbesar di wilayah tersebut. Setiap hari, perusahaan ini mampu memproduksi sekitar 15 ton susu murni yang dipasok ke sejumlah industri pengolahan susu nasional di Jakarta.
Pemilik UD Saputra Jaya, Ainul Yaqin, memilih usaha peternakan sapi perah sebagai jalan usaha yang digelutinya hingga berkembang pesat seperti sekarang. Selain menopang perekonomian keluarga, usaha ini juga disebut memberikan kontribusi pajak yang cukup besar bagi Pemerintah Kabupaten Jombang.
Manajer UD Saputra Jaya, Dyah Sukesi, mengatakan, produksi susu tidak hanya berasal dari peternakan milik perusahaan, tetapi juga dari peternak lokal di sekitar Wonosalam.
“Kami membeli susu dari peternak dengan harga Rp 7.400 per liter. Sebelum diterima, susu harus melalui uji laboratorium untuk memastikan kualitasnya,” ujar Dyah.
Saat ini, UD Saputra Jaya telah menjalin kerja sama dengan perusahaan pengolahan susu nasional seperti Ultra Milk dan Indolakto. Susu dikirim dalam volume besar menggunakan truk tangki menuju Jakarta, bukan dalam bentuk kemasan ritel.

Di tingkat hulu, perusahaan juga bekerja sama dengan BUMDes Galengdowo. Setiap setoran susu dari BUMDes maupun peternak mandiri wajib lolos uji kualitas sebelum diterima. Apabila kualitas susu tidak memenuhi standar hingga tiga kali berturut-turut, pihak perusahaan akan melakukan mediasi. Jika pelanggaran berulang, kerja sama dapat diputuskan.
Secara keseluruhan, UD Saputra Jaya mengelola sekitar 750 yang ada di farm dan hingga lebih dari 1500 ekor sapi perah yang ada di peternak area wonosalam. Dari satu ekor sapi, produksi susu rata-rata mencapai 12 liter per hari. Pakan yang diberikan relatif sederhana, berupa rumput gajah,tebon jagung dan makanan tambahan.
Susu hasil perahan ditampung dalam sistem pendingin (cooling tank) untuk menjaga kesegaran dan mencegah pertumbuhan bakteri sebelum dikirim ke luar daerah. “Kalau sudah dalam kondisi dingin, kualitasnya tetap terjaga sampai tujuan,” ujar salah satu petugas di lokasi.
Perusahaan ini mempekerjakan sekitar 25 kepala keluarga, dengan rata-rata setiap keluarga menangani sekitar 25 ekor sapi. Sebagian karyawan diketahui berasal dari Pasuruan, daerah yang juga dikenal sebagai sentra sapi perah di Jawa Timur.
Adapun pengelolaan limbah kotoran sapi saat ini masih dialirkan ke lahan perkebunan milik bapak Ainul sendiri.
Dengan pola kemitraan bersama peternak lokal dan dukungan industri pengolahan nasional, UD Saputra Jaya menjadi salah satu contoh integrasi usaha peternakan rakyat dengan rantai pasok industri susu nasional.
(Red – SB)






